Minggu, 24 Januari 2010

Pertimbangkan Aku sebagai Pacar Pertamamu: buat YAO



Cinta buat anak usia 12, bukanlah cinta pada umumnya lelaki mencintai wanita dan sebaliknya. Itu adalah rangkulan persahabatan yang hangat, gairah paling murni berbalut rasa ingin tahu (khas kanak-kanak) karena coba-coba ingin merasakankan hal-hal seperti orang dewasa biasa lakukan. Perasaan polos tanpa pretensi apalagi pengharapan di balik semua tindakan. Cinta bagi anak usia 12, adalah bermain bersama, belajar, memberi, menerima, sesekali mencoba berciuman (untuk memenuhi syarat apa yang mereka pikirkan sebagai penanda hal yang dilakukan layak disebut pacaran).
Namanya Mada, dia duduk di depanku satu meja dengan anak kurus kering bermata besar berkulit pucat, yang biasa dipanggil Lim. Mada, bukan penduduk asli kota kami. Dia pindahan dari P, kota di bagian Selatan yang berjarak satu hari satu malam dengan menggunakan kapal laut dari kota kami, T. Ayahnya seorang pejabat pemerintah daerah yang dimutasi ke kota kami.
Dalam pandanganku Mada sangat keren. Bahkan paling keren di kelas kami (itu menurutku lho). Aku suka matanya yang sipit, kulitnya yang terang, dan rambutnya yang berjambul. Untunglah Tuhan memberikan kami rumah yang berdekatan. Karena rumah kami satu arah, setiap jam sekolah usai, kami selalu pulang bareng. Tidak selalu ding, kalau ia kebetulan membawa sepeda saja.
“Zi aku bosan dengan jalan pulang yang biasa. Mari kita mencari arah baru pulang ke rumah. Bagaimana kalau lewat hutan kecil yang ada sungainya?” Usul Mada suatu siang usai jam sekolah. Dia memang agak pembosan.
“Lewat jalan manapun tak masalah asal bersamamu. Meski harus menembus hutan sekalipun. Asal kamu juga mencintaiku dan berjanji kita akan bersama sampai kita tua dan pikun,” jawabku mantap. Kalimat picisan itu aku dapatkan dari sebuah novel dewasa, entah apa judulnya.
“Kau tahu, kau selalu jadi pacar favoritku. Kau cewek paling keren yang pernah aku kenal. Tentu saja kita akan bersama sampai tua dan pikun,” balas Mada tak kalah antusias. “Aku akan membawakan bunga bakung setiap hari dan permen manis kesukaanmu, putri,” sambungnya sambil memamerkan senyuman paling manis. Gigi geliginya yang putih dan rapi akan menyembul keluar saat ia tersenyum lebar. Eh, bohong deh, itu cuma khayalanku saja kok.
“Maksudmu lewat arah belakang? Baiklah. Kau kan yang punya sepeda,” jawabku keluar dari khalayan sambil membetulkan tali sepatu yang lepas, lalu berlari kecil menghampiri Mada dan duduk di boncengan sepeda Phoenix miliknya.
Hutan kecil yang kami lewati memiliki jalan setapak yang menghubungi kampung P dan kampung B, dekat rumah kami. Jalan setapak itu panjang dan berliku, namun bisa dengan mudah dilalui sepeda Mada. Kiri-kanannya berjejer pepohonan karet. Bunyi serangga hutan bersahut-sahutan membentuk irama yang sangat dikenal kanak-kanak kota kami, T. Aku dan Mada menerobos hutan berlomba-lomba mengejar sinar matahari yang memancar di sela-sela dahan dan ranting ficus elastica. Kami berhenti sejenak untuk memungut biji-biji karet yang bertebaran di antara daun kering.
Satu kilometer dari pangkal jalan setapak itu ada sungai kecil, penduduk menyebutnya tebat. Di pinggirannya, tanaman sagu berjajar membentuk rawa hutan sagu. Meski dasar tebat berwarna coklat, namun airnya terlihat bening dari atas. Tinggi air tebat tak lebih dari setengah betisku. Kami berhenti untuk mencuci tangan dan kaki. Di depanku, tampak pemandangan keluarga ikan seriding bertamasya. Ketika kami mencelupkan kaki ke dalam air yang sejuk itu, mereka hanya melengos sebentar dan kemudian asyik menggerogoti ganggang. Tak terganggu dengan kehadiran kami.
Tak jauh dari tebat, kira-kira beberapa puluh meter, ada kumpulan pohon manggis liar yang tengah berbuah. Lagi-lagi kami berhenti sejenak. Mada memanjat pohon manggis yang cukup tinggi dengan lihai. Ia seperti monyet sekaligus tupai yang menari lincah. Segera setelah sampai di atas, Mada menghujaniku dengan manggis ranum yang kebanyakan bercuping enam pada cupatnya. Getahnya yang kuning menodai baju kami, menimbulkan bercak kecoklatan (yang akan membuat Ibu ngomel panjang padaku). Setelah cukup kekenyangan, kami beranjak menjauh dari kumpulan pohon manggis. Jalan menuju rumah masih sekitar 2 km. Dari balik ranting pohon, matahari tersenyum hangat. Setelah lebih dari lima kali berhenti, akhirnya kami sampai di ujung hutan, bertemu persimpangan yang masing-masing mengarah ke rumah kami. Ini jalan terakhir yang kami lalui bersama, karena di sinilah kami berpisah. Mada mengambil arah kanan, dan aku ke kiri. Dengan melambaikan tangan, kami berpisah. Ia berjanji besok akan kembali membawa sepeda ke sekolah, kalau hari tidak hujan. Ah, menyenangkan.
Hari-hari bersama Mada, adalah hari-hari terbaik dari sebagian hari-hari paling baik yang terjadi padaku. Memang kami tidak pernah saling mencuri cium. Tapi, aku rasa aku mempertimbangkannya sebagai pacar pertamaku, cinta pertama dalam hidupku. Karena setelah Mada pindah ke Kota J, tak ada anak laki-laki yang bisa membuatku merasa nyaman saat berdekatan, atau saat dibonceng sepeda, atau saat bermain dan belajar bersama. Hanya Mada yang membuatku merasa hampa karena bahagia. Sayang kami putus komunikasi begitu saja. Karena kanak-kanak, kami tidak terlalu memikirkan pentingnya kelanjutan sebuah komunikasi. Dalam benakku, dia hanya pindah ke lain kota dan suatu hari akan kembali ke kota kami, T.
Meski bertahun-tahun kemudian kami juga tak bertemu (juga tak kutemukan sosoknya di Facebook), tapi dalam hati aku tetap berharap dia pun pernah mempertimbangkan aku sebagai pacar pertamanya, cinta pertama dalam hidupnya. Walau sejak dulu pun tak pernah terucap kata-kata cinta dari mulut kami yang lugu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar