
Dini hari adalah saat terbaik di kota kecil kami, T. Dimulai dengan alunan azan yang syahdu, disambung suara angin yang menjamah dedaunan. Pertemuan partikel keduanya menimbulkan irama yang selalu dirindukan para penduduk T sepanjang hidup mereka. Lampu-lampu taman masih berpendar-pendar putih dan akan mati setelah pukul 6. Udara dingin menebar semerbak wangi krinon yang khas bercampur aroma kopi susu, teh susu, dan kue getas manis, membuai-buai memanja hidung. Dari ufuk Timur, Matahari menyembul ceria. Seceria warna tas sekolahku, kuning cerah. Tapi, dini hari di rumah kami selalu ada keributan kecil. Kali ini ulah kakak laki-lakiku yang kehilangan sebelah kaus kakinya. Padahal baru dua minggu lalu dibeli Ibu.
Seisi rumah tak tahu kalau aku yang menyembunyikan. Aku lakukan kejahatan kecil itu karena kesal dengan ulah kakak beberapa pekan lalu namun baru kuketahui hari Sabtu kemarin. Sebenarnya, aku kasihan dengan si keriting ganteng itu karena pagi ini dia harus menjadi komandan upacara di sekolah, dan harus tampil prima dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi aku tak bisa menolelir kejahatan yang dilakukannya padaku lebih dulu. (Dia memakai kaset Tommy Page-ku untuk merekam lagu-lagu milik Jim Morrison*). Lagipula sudah terlambat untuk memberitahu dimana kaus kaki sebelah kiri itu berada, karena persoalannya terlanjur memanas. Sudah sampai pada tahap dimana Ibuku turun tangan mengubek-ubek lemari pakaian sambil tak lupa ‘ceramah’ panjang lebar. Ibu memang tak suka jika persiapan sekolah kami tidak matang. Beliau meminta kami untuk mandiri dalam hal ini. Sebenarnya, bisa saja sih aku buka mulut memberi tahu dimana kaus kaki itu berada atau berpura-pura menemukan kaus kaki itu, dan memberikannya pada kakakku sehingga dia bisa selamat sampai di sekolah dan menjadi komandan upacara yang keren, lalu aku jadi pahlawan. Tapi, rasa kesal dan keinginan untuk sedikit membalas dendam, membuatku tetap bungkam, teguh menjalankan Omerta**. Jelas sangat fatal kalau dilanggar.
Akhirnya dengan wajah masam, kakakku berangkat sekolah dengan sepasang kaus kaki usang yang warnanya antara putih keabu-abuan atau putih kehijau-hijauan (aku sendiri bingung menentukan warnanya). Sedang kaus kaki sebelah kiri yang menjadi biang keributan di pagi buta itu aman tergelatak dalam laci meja belajarku, bersama buku-buku pelajaran bersampul coklat.
Di sekolah kakakku sedikit menahan malu lantaran kaus kakinya. Padahal menurutku biasa-biasa saja. Dia memang jagoan mendramatisir semua hal. “Karena penampilan adalah nomor satu,” sungutnya kesal pada saat sarapan pagi berlangsung. Huh, dia memang perlente, persis ayahku. Sementara itu, demi melihat kekesalan kakak yang tak kunjung surut, Ibu berjanji akan membelikannya sepasang kaus kaki baru kalau kakak pun berjanji tidak menghilangkannya kembali. “Kau tahu, kakakmu ini ketua Osis paling tampan, memang aku tak secerdasmu dalam hal pelajaran, tapi di bidang organisasi, tak ada yang meragukan kepiawaianku. Dan sebagai ketua Osis, calon pemimpin bangsa, aku harus tampil rapi. Kalau perlu mengkilat. Jadi masalah kaus kaki ini adalah duri dalam daging buatku.” Aku rasa kakakku yang bercita-cita jadi Diktaktor itu akan mengungkapkan jurus marketing bagaimana memesona umat lewat penampilan fisik dengan panjang lebar demi melihatku tersenyum-senyum meledek ke arah kaus kakinya kalau saja aku tak langsung ngabur. Akhirnya, dengan setengah berlari aku berangkat ke sekolah, meraih tas kuning cerahku di atas meja makan, sementara dia terbengong-bengong melihatku ngacir dengan kue mohok isi kacang hijau masih setengah potong tersumpal di mulut. Kata-kata yang ingin dicurahkan tampak menggantung di bibirnya yang amat bagus bentuk dan warnanya itu (aku sedikit iri, karena bibirku tak seseksi miliknya, padahal aku kan cewek).
Malam hari, saat rumah sepi (Ayah ke pertemuan RT, sedang Ibu di rumah nenek, kakakku, seperti biasa mendekam di dalam kamarnya sampai pagi, sibuk dengan ritual remaja SMP kelas 2) diam-diam aku pergi ke belakang rumah, dan menghilangkan barang bukti kejahatanku dengan cara membakarnya. Persis seperti cara yang dilakukan para pelaku kejahatan yang kubaca di novel-novel detektif. Ini pertama kalinya dalam hidupku membakar barang bukti. Sambil memandang kaus kaki berbahan nylon itu habis terbakar, dalam hati aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku, dan bertekad akan membeli kaus kaki baru untuknya dengan uang tabunganku, tapi, tentu saja, setelah ia mengganti kaset Tommy Page-ku!
***
*Jim Morisson: Laki-laki yang menempel siang-malam di dinding kamar kakakku, musisi jenius yang terkenal dengan aksi panggung nyentrik mengumbar terror kejahatan, drug self destruction, dan aksi berbau porno terselip di sana-sini, itu kata si keriting lho...
**Omerta: istilah untuk gerakan tutup mulut sekaligus hukum tertua dalam dunia Mafioso Sisillia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar