“Orang bilang menjadi dewasa adalah bagian paling sulit dan kompleks dalam kehidupan. Buatku fun-fun aja sih... “(anonimus)
Dulu, karena aku diam-diam sering membaca majalah dan buku orang dewasa, pikiran dan wawasanku jauh lebih terbuka ketimbang teman-teman sebaya dalam hal urusan orang-orang dewasa dan tetek bengeknya. Ketika teman-teman sebayaku mendapat menstruasi pertamanya, banyak yang bertindak bodoh dan menangis karena mengira sesuatu yang mengerikan terjadi pada vagina mereka. Aku ingat, Lin, murid yang duduk di belakangku, gadis cilik yang selalu berkepang dua dengan poni super pendek (menurutku sangat tidak cocok dengan hidung jambunya karena hidung yang memang sudah besar itu jadi bertambah lebar saja kelihatannya), saat pertama mendapat haid di sekolah, ia mendekam di WC dan menangis, berjam-jam. Lin berpikir terjadi pendarahan dalam dan karenanya dia akan segera mati. Kalau tak diberi penjelasan oleh Ibu Ras, wali kelas kami, tak beranjak ia dari WC bau itu karena terus menangis menyesali nasib malangnya.
Ada beberapa yang sedungu Lin atau lebih parah malah, tapi lebih banyak sih merasa malu. Tak sedikit juga yang enggan mau masuk sekolah karena takut kondisinya akan ketahuan murid-murid laki-laki jahil bermulut kotor yang akan meledeknya tanpa ampun. Bisa dimaklumi prilaku murid-murid perempuan itu, karena dulu pendidikan seks masih terukur tabu untuk anak-anak usia belasan tahun, dan orangtua bersikap masa bodoh tentang hal itu. Aku sendiri, saat mendapat haid pertama di usia 12 tahun (sedang mekar-mekarnya, bukan?). Karena pengetahuanku tentang masalah reproduksi sudah cukup sebagai akibat kegemaranku membaca majalah dan buku-buku dewasa, aku tidak histeris menghadapinya. Bahkan cenderung bahagia. Karena tanpa kusadari, sebenarnya aku telah menunggu-nunggu saat itu datang. Saat yang mengantarku menjadi wanita dewasa. Haid, seperti yang aku baca di majalah X, merupakan bagian dari proses mempersiapkan tubuh perempuan setiap bulannya untuk kehamilan. Dan karena aku tidak menginginkan kehamilan di usia sekolah, aku bersikap protektif terhadap laki-laki, tapi tentu saja aku tidak menampik perasaan suka pada mereka. Pikirku, aku bisa menghalangi terjadi kehamilan. Tentunya dengan tidak berhubungan seks! Sebab, aku adalah gadis pintar, tidak setolol dan senaif teman-teman perempuanku (yang benar sih sok tahu dan sok pintar). By the way, anyway, busway, namaku Kamina. Nama yang unik dan eksotis, kan? Cerita dibalik nama itu juga tak kalah menggoda. Mari kuceritakan: Kamina adalah nama kota yang terletak di Provinsi Haut-Lomami, Republik Demokrasi Kongo, Afrika yang hitam dan eksotis. Kamina juga nama salah satu tokoh sentral dalam serial animasi Tengen Toppa Gurren-Lagann, karakter yang sangat lepas dari kontrol, keparat yang membuat Gurren-Lagann menjadi hidup dan melegenda, membuat aturan dan hukumnya sendiri, tapi peduli banget pada sesama. Pokoknya jagoanlah, keparatlah, sekaligus idiotlah. Kamina juga berarti sundal. Seseorang yang kecanduan perhatian, hadiah, puja-puji dan sejenisnya, menghisap itu semua dari yang bisa dihisap tapi ogah timbal balik. Sinonimlah dengan narsis, psycho, sociopath, atau istilah anak muda sekarang: cam-whore (kau berfoto --biasanya self-captured--, kemudian kau close up mukamu yang (kau pikir) ganteng (apa?), tidak peduli angle, tak peduli tempat, dan kau coverage frame gambar tersebut lebih dari 60%, kemudian kau upload ke facebook, sebab kalau belum kasih tahu orang sedunia kau belum puas dan seperti ada yang mengganjal hati). Bisa juga Kamina berarti something loose, easy, and large. Alias a slut. Hehehe (senyum sok tahu dan sok pintar), hebat ya? Tapi, itu cuma hayalanku saja kok. Yang benar, namaku Saci. Orangtuaku memanggilku Zizi. Tidak nyambung ya? Oya, karena sudah menanti-nanti datangnya haid pertama, begitu dapat, aku langsung mengabarkan berita gembira ini ke semua teman-teman perempuanku. Seingatku, kami sedang berkumpul di lapangan, bermain galasin. Sambil berlari-lari, aku hampiri satu per satu teman-temanku, membisiki mereka kabar bahagia tersebut sembari tersenyum cekikikan, dan beberapa murid laki-laki dengan perasaan ingin tahu cemberut memandangiku yang melompat sana-sini demi mengabarkan berita bahagia tersebut. Pulangnya, aku dimandikan nenekku dengan bunga 7 rupa yang semerbak harum, dipetik dari kebunnya sendiri. Beraroma mistis. Sambil mengguyur air pelan-pelan ke kepalaku, nenek melepas petuahnya, “Sekarang kau beranjak dewasa, Gadis. Sebentar lagi menjadi wanita dewasa, sudah boleh kau memilih kekasih. Sudah kuatur pertemuanmu dengan pemuda yang rupawan lagi banyak harta. Kalian akan menikah, segera setelah kau menamatkan sekolah. Kau boleh menempati rumah warisan kakekmu yang luas, seumur hidup kalian akan bahagia dan kalian akan mendapatkan putra-putri yang cantik dan tampan, seperti kedua orangtuanya. Setiap hari kalian akan bersenda gurau, bermain di pantai. Dan setiap minggu kalian akan piknik di taman dengan membawa banyak kue-kue kecil dari Holland, serta sirup manis aneka warna. Tak ketinggalan berbatang-batang cokelat sebagai penutup tamasya…” Waaah, bahagianya. Eh, tapi aku bohong deh. Itu sih khayalanku saja. Yang benar nenekku bilang begini: “Karena sudah datang bulan, mulai sekarang jangan keluar hanya dengan berkaus dalam. Minta ibumu membelikan beha. Rapikan dudukmu, jangan kau pertontonkan celana dalam. Jangan bergaul rapat dengan teman laki-laki. Kelak kalau sudah waktunya, kau akan menikah dan punya banyak anak. Banyak anak. Laki-laki suka dengan perempuan subur.” Ah, senangnya menjadi bagian dari kedewasaan. Terutama saat aku menerima pembalut yang dibelikan ibuku, merek S, berbonus celengan kecil berbahan kaleng dengan gambar kartun yang lucu dan imut. Pernah juga aku mendapat gelas bergambar boneka cantik. Selanjutnya, aku lebih bergairah menanti hadiah bonus apalagi yang diberikan pembalut merek S itu setiap bulannya. Ah, tetap saja kanak-kanak yang senang menanti hadiah.
***
critanya nanggung, ibarat orang makan, lg enak2 ehhhh hrs berhenti..buat dong yg happy ending, like happily ever after gitu ..buat ibu/bapak penulis, klw bercerita jgn dikit, pelit amat...
BalasHapusHappy ending? No way ah, not my style lah...cerita gue mana ada yang happy ending sih, memangnya Hollywood, apa-apa happily ever after...dah ga jaman sih.
BalasHapus